Samarinda, Topkaltim.com – Aktivitas lalu lintas di jantung Kota Samarinda kembali mengalami perubahan besar setelah pembatasan kendaraan berat diberlakukan di Jembatan Mahakam Ulu. Kebijakan ini membuat alur pergerakan kendaraan logistik dialihkan ke jalur lain demi menjaga keamanan infrastruktur vital kota.
Pada Jumat dini hari, kepolisian bersama instansi terkait mulai mengatur ulang arus kendaraan melalui Jembatan Mahakam IV. Jembatan ini kini berfungsi sebagai lintasan utama bagi truk-truk besar yang sebelumnya melintasi Mahulu.
Pembatasan tersebut diberlakukan sebagai langkah pencegahan setelah struktur Mahulu dinilai perlu pemeriksaan lanjutan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama tim teknis masih melakukan pengukuran dan uji beban pasca insiden tabrakan tongkang yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Perubahan jalur ini berdampak langsung pada pola lalu lintas di dalam kota. Sejumlah ruas yang biasanya lengang pada malam hari mendadak menjadi titik pemusatan kendaraan berat.
Hingga lewat tengah malam, aparat kepolisian masih melakukan pengawasan di sejumlah simpul jalan. Pengaturan dilakukan secara bertahap guna menghindari penumpukan kendaraan di satu titik.
Kanit Turjawali Satlantas Polresta Samarinda, Iptu Ismail Marzuki, menyebut rekayasa lalu lintas ini bersifat situasional dan akan terus disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Ia menegaskan, sistem buka-tutup di Mahakam IV dijalankan berdasarkan instruksi pimpinan sebagai langkah sementara hingga Mahulu dinyatakan aman kembali.
Dalam pelaksanaannya, truk bermuatan sekitar 20 ton masih diperbolehkan melintas. Meski demikian, petugas tetap melakukan simulasi arus kendaraan untuk meminimalkan risiko kemacetan dan kecelakaan.
Masalah utama muncul dari kendaraan kontainer berukuran panjang. Manuver yang terbatas membuat kendaraan jenis ini kerap tersendat saat melewati tikungan menuju kawasan Kompi.
Bentuk jalan yang sempit serta sudut belokan yang tajam membuat kendaraan panjang tidak bisa bergerak secara bersamaan dari dua arah. Kondisi ini memaksa petugas untuk melakukan pengaturan ekstra.
Sebagai solusi, arus kendaraan diatur secara bergiliran dengan durasi sekitar 15 menit untuk setiap arah. Setelah itu, jalur kembali dibuka sembari memantau kepadatan.
Menjelang pukul 02.00 WITA, situasi lalu lintas di pusat kota terpantau lebih terkendali. Antrean kendaraan berat hanya memanjang hingga kawasan Karang Asam.
Namun, tekanan arus mulai terasa dari arah seberang jembatan, terutama dari kendaraan logistik yang datang dari luar wilayah Samarinda.
Untuk menjaga kelancaran, personel gabungan diterjunkan di sejumlah titik, melibatkan kepolisian, Dinas Perhubungan provinsi dan kota, serta perwakilan sektor logistik.
Di akhir, aparat mengimbau warga untuk menunda perjalanan lintas jembatan pada malam hari selama pembatasan masih berlaku, mengingat jalur tersebut diprioritaskan bagi kendaraan distribusi.(DFA)












