Kunjungan ini, lanjutnya, bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari upaya mengumpulkan data konkret yang akan dibahas dalam forum resmi di tingkat pusat.
Meski menghadapi persoalan serius, Andi Sofyan mengakui bahwa sarana penunjang di Lapas Samarinda relatif cukup baik. Namun, kondisi lahan yang terbatas membuat pengembangan fasilitas menjadi tidak memungkinkan.
Ia menilai pembangunan lapas baru menjadi langkah strategis yang perlu segera direalisasikan. Dengan lokasi yang lebih luas, berbagai program pembinaan dapat dijalankan secara optimal.
Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa persoalan overkapasitas tidak hanya terjadi di Samarinda. Hampir seluruh daerah di Indonesia menghadapi kondisi serupa, bahkan dengan tingkat kepadatan yang lebih tinggi.
DPD RI, kata dia, akan mendorong pemerintah pusat untuk memberikan perhatian khusus terhadap persoalan ini. Termasuk mempercepat pembangunan fasilitas pemasyarakatan di daerah-daerah yang sudah mengalami tekanan kapasitas.
Di sisi lain, Kepala Lapas Samarinda, Yohanis Varianto, membenarkan bahwa jumlah penghuni saat ini telah melampaui kapasitas hingga sekitar 314 persen. Ia menyebut kondisi tersebut sudah berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
Yohanis berharap rencana relokasi yang telah disiapkan dapat segera terealisasi. Dengan fasilitas yang lebih memadai dan ruang yang lebih luas, ia optimistis sistem pembinaan dapat berjalan lebih efektif serta memberikan dampak positif bagi warga binaan ke depannya.(DFA)












