Samsung Dorong Generasi Muda Jadi Inovator Digital Lewat Program Solve for Tomorrow dan Innovation Campus

Samsung bersama generasi muda supaya jadi inovator digital. (Foto: Istimewa)

Kiprah peserta SFT dan SIC kian menonjol dengan berbagai karya berbasis AI dan IoT. Pada 2024, tim Solyd Ias dari Universitas Brawijaya menciptakan Portable Kit D-Dimer Level Detector untuk mendeteksi risiko sudden cardiac death, sementara tim Cemerlang dari Universitas Gadjah Mada menghadirkan aplikasi Dentalint untuk deteksi karies gigi.

Dari jenjang SMA, tim Masetasia MAN Insan Cendekia Serpong membuat situs deteksi dini gejala demensia, sedangkan tim SMAN 1 Sidoarjo mengembangkan aplikasi penerjemah bahasa isyarat HandsTalk, yang memungkinkan komunikasi antara teman tuli dan teman dengar di platform seperti Google Meet dan WhatsApp.

Sementara dari SIC, inovasi luar biasa juga bermunculan. Tim PawPal dari BINUS University merancang perangkat IoT dan AI yang membantu anak-anak mengurangi waktu menatap layar melalui sistem gamifikasi. Sedangkan tim Daely, juga dari BINUS University, menciptakan AI and IoT-Based Drowsiness Detection System for Drivers sistem pendeteksi kantuk berbasis AI dan IoT yang meraih Merit Award di Asia Pacific ICT Alliance Awards (APICTA) 2024.

Kemenangan ini menandai langkah penting bagi Indonesia dalam menampilkan potensi inovasi anak muda di kancah internasional. Tim Daely sendiri berhasil mengungguli 27 tim dari 12 negara di kawasan Asia Pasifik.

Konsistensi Samsung melalui program SFT dan SIC membuahkan hasil nyata. Para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teknologi, tetapi juga terbentuk menjadi problem-solver yang peka terhadap tantangan sosial dan lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *