Selain itu, terdapat pula sepasang patung Lembuswana berlapis emas yang dibuat pada tahun 1850. Lembuswana sendiri merupakan simbol kekuasaan dan kemakmuran bagi Kesultanan Kutai. Koleksi lainnya meliputi pakaian kebesaran Sultan, senjata tradisional kesultanan, perangkat upacara adat, serta peralatan gamelan yang merupakan hadiah dari Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat.
Tidak hanya terbatas pada peninggalan Kesultanan Kutai, Museum Mulawarman juga menampilkan artefak dari Kesultanan Bulungan, seperti perangkat meja tamu kerajaan, serta koleksi keramik kuno, mata uang zaman kerajaan, dan replika prasasti Yupa yang menjadi bukti tertulis tertua tentang keberadaan Kerajaan Kutai.
Bangunan Museum Mulawarman memiliki daya tarik tersendiri dari segi arsitektur. Aula besar di bagian tengah bangunan serta keberadaan ruang bawah tanah menjadi ciri khas yang jarang ditemukan pada bangunan bersejarah di Indonesia. Selain itu, orientasi bangunan yang menghadap ke timur dipercaya memiliki makna filosofis, yakni menyambut datangnya matahari sebagai simbol kehidupan baru.
Museum ini bukan hanya tempat penyimpanan artefak, tetapi juga berfungsi sebagai pusat edukasi. Melalui koleksi yang dipamerkan, pengunjung dapat mempelajari sejarah panjang Kesultanan Kutai Kartanegara, perkembangan budaya masyarakat lokal, serta peran penting kerajaan ini dalam perdagangan dan diplomasi pada masanya.
Pendidikan sejarah yang ditawarkan oleh Museum Mulawarman tidak hanya diperuntukkan bagi pelajar dan akademisi, tetapi juga masyarakat umum yang ingin memahami lebih dalam tentang warisan budaya Kalimantan Timur.












